Brilio. net kepala Ibadah haji menjadi salah satu perintah Allah SWT kepada umatnya yang mampu. Kata dapat di sini dapat diartikan jadi kemampuan seseorang dari bidang fisik, mental, hingga finansial. Dalam pelaksanaan ibadah haji akan ada rangkaian ibadah yang perlu dilakukan. Maka dari itu pahami kondisi dan ketentuan dalam beribadah haji untuk kamu dengan hendak melaksanakannya.

Begitu selalu dengan umroh, ibadah ini pun tak kalah spesial keutamaannya. Jika ibadah haji dapat dilaksanakan dalam masa tertentu, umroh justru bisa kamu laksanakan kapan sekadar. Ketika syarat sebagai jamaah terpenuhi, kamu bisa melakukan ibadah umroh sesuai keyakinan yang berlaku.

Namun perbedaan umroh serta juga haji tak cuma ada di waktu pelaksanaannya lho. Sering kali karakter kurang memahami letak memperlawankan dari dua jenis ibadah ini. Nah, pahami lebih lanjut yuk apa saja perbedaan dari ibadah haji dan umroh. Simak penjelasan selengkapnya dalam ulasan brilio. net dari berbagai sumber pada Selasa (13/7) beserta ini.

1. Pengertian ibadah haji dan umroh.

Perbedaan ibadah haji dan umroh © unsplash.com

foto: unsplash. com


Dari segi pengertian, haji dan umroh memiliki maksud tersendiri. Para ulama memaknakan ibadah haji sebagai menuju ke ka’bah untuk melakukan perbuatan-perbuatan tertentu atau mengunjungi suatu tempat tertentu secara melakukan suatu pekerjaan tertentu. Sementara itu, dalam tampang Bimbingan Manasik Haji Departemen Agama RI, umroh merupakan berkunjung ke Baitullah buat melakukan thawaf, sa’i & bercukur demi mengharap ridha Allah.

Umroh sendiri berasal dari I’timar yang berarti ziarah. Yakni melawat ka’bah dan berthawaf pada sekelilingnya, kemudian bersa’i kurun shafa dan marwa, serta mencukur rambut (tahallul) tanpa wukuf di Arafah. Sedangkan haji pada dasarnya ialah “menyengaja sesuatu”. Haji dengan dimaksud menurut syara’ ialah “sengaja mengunjungi ka’bah buat melakukan beberapa amal ibadah dengan syarat-syarat yang tertentu”.

Perbedaan ibadah haji dan umroh © unsplash.com

foto: unsplash. com

a. Sebab segi hukum.

Sebagai rukun Islam yang kelima, ibadah haji mempunyai hukum wajib bagi yang memenuhi persyaratan haji. Arahan Allah bagi hambaNya yang mampu melaksanakan haji telah tertera dalam QS Ali Imran ayat 98 yang berarti:

“Dan bagi Allah subhanahu wata’ala, wajib bagi manusia untuk melakukan haji ke Baitullah. ” (QS Ali Imran 98).

Semetara itu buat hukum ibadah umroh, tahu terdapat perbedaan pendapat sejak berbagai pihak. Sebagian menyamakan hukum umroh dengan haji, tetapi ada pula dengan menyebut hukum melaksanakan umroh adalah sunnah. Perintah untuk menjalankan ibadah umroh juga sudah tertera dalam QS Al-Baqarah 196 yang mempunyai arti:

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah untuk Allah, ” (QS al-Baqarah: 196).

b. Daripada segi rukun.

Rukun beribadah menjadi lengah satu yang perlu dipenuhi. Rukun untuk haji dan umroh memiliki beberapa persamaan, namun ada pula tingkatan yang menjadi pembeda sebab kedua ibadah tersebut. Dapat diketahui bahwa rukun haji adalah niat ihram, wuquf di Padang Arafah, tawaf, sa’i, dan memotong rambut. Hal ini sudah dijelaskan oleh Syekh Abdullah Abdurrahman Bafadhal al-Hadlrami:

“Rukun-rukun haji ada lima, yakni niat ihram, wuquf di Arafah, tawaf, sa’i serta memotong rambut. Dan rukun-rukun umrah ada empat yaitu ihram, tawaf, sa’i serta memotong rambut, ” (Syeh Abdullah Abdurrahman Bafadhol al-Hadlrami, Busyra al-Karim Bi Syarhi Masa-il at-Ta’lim Ala al-Muqaddimah al-Hadlrasmiyah, Dar al-Fikr, bagian 2, hal. 55).

Sementara itu, rukun umroh terdiri dari niat suci, tawaf, sa’i, dan memecah rambut. Dari sini mampu kita ketahui bahwa wuquf di Padang Arafah cuma dilaksanakan oleh jamaah haji saja. Jamaah umroh tidak melakukan wuquf di Padang Arafah. Hal ini dikarenakan wuquf di Padang arafah bagi ibadah haji menjadi hal yang wajib dan pelaksanaannya hampir bertepatan secara jatuhnya Hari Raya Idul Adha. Pada hari itu, umat Islam yang sedang tidak melaksanakan ibadah haji disunnahkan untuk berpuasa. Jadi di situlah letak perbedaan di antara rukun ibadah haji dan umroh.

c. Dari jurusan waktu pelaksanaan.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, salah satu memperlawankan dari ibadah haji serta umroh terdapat dalam masa pelaksanaannya. Pelaksanaan ibadah haji lebih terbatas jika dibandingkan dengan umroh yang mampu dilaksanakan kapan saja. Ibadah haji hanya dapat dilaksanakan pada rentang waktu pangkal bulan Syawal sampai Hari Raya Idul Adha dalam bulan Dzulhijjah. Sedangkan, ibadah umroh bisa dilaksanakan surat saja tanpa ada makna rentang waktunya. Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani menjelaskan:

“Dan waktu, waktu di dalam haji adalah mulai daripada permulaan bulan Syawal sampai fajar hari raya Idul adha (Yaumu al-nahr) & umrah bisa dilakukan dalam sepanjang tahun. ” (Abu Abdil Mu’ti Muhammad Nawawi Bin Umar al-Jawi al-Bantani, Nihayah al-Zain, al-Haromain, situasi. 201).

d. Dari segi kewajibannya.

Kewajiban yang dimaksud adalah kewajiban yang perlu dijalankan dalam rangkaian ibadah tersebut. Apabila tidak dijalankan, akan ada denda dengan perlu dibayarkan. Seperti halnya dengan rangkaian manasik, jamaah haji dan umroh wajib untuk melakukannya. Apabila tidak dilaksanakan, tidak membatalkan tetapi wajib diganti dengan dam.

Dalam ibadah haji, terdapat lima kewajiban, di antaranya niat ihram lantaran miqat, batas area yang telah ditentukan sesuai dengan asal wilayah jamaah, menginap di Muzdalifah, menginap pada Mina, tawaf wada’ ataupun perpisahan, dan melempar jumrah. Syekh Zainuddin Abdul Aziz al-Malibari berkata:

“Kewajiban-kewajiban haji yaitu ihram dari miqat, menginap di Muzdalifah dan Mina, tawaf wada’ dan melempar batu, ” (Syekh Zainuddin Abdul Aziz al-Malibari, Qurrah al-Aini, al-Haramain, hal. 210).

Sementara itu, untuk ibadah umroh terdapat kewajiban yakni rencana dari miqat dan menjauhi larangan-larangan ihram. Dengan kesibukan yang lebih sedikit pula menjadi salah satu faktor susunan umroh lebih cepat bila dibandingkan dengan ibadah haji. Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani berkata:

“Sedangkan kewajiban-kewajiban umrah ada dua yaitu ihram dari miqat dan menjauhi larangan-larangan ihram” (Syekh Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi Bin Umar al-Jawi al-Bantaniy, Tausyikh ‘Ala Ibni Qosim, al-Haramain, hal. 239).

Recommended By Editor