Pepatah merupakan peribahasa yang mengandung nasihat atau anutan, yang biasanya diberikan sebab orang tua kepada anak-anaknya. Peribahasa tak hanya mampu dibuat dengan bahasa Indonesia saja, namun juga mampu dibuat dengan bahasa wilayah, salah satunya yakni kaidah Jawa.

Bahasa Jawa merupakan bahasa keseharian yang dimanfaatkan oleh orang-orang Suku Jawa. Bahasa Jawa memiliki logat khas dan tingkatan dibanding kasar hingga halus. Penerapan bahasa Jawa pun mempunyai tingkatan yang berbeda, bersandar kepada siapa kamu kata. Misalnya saja bahasa dengan digunakan sehari-hari yang termasuk cukup sopan, ada serupa bahasa kasar yang mampu digunakan untuk teman seimbang, dan juga bahasa Jawa halus untuk orang tua.

Kamu mampu menggunakan bahasa Jawa buat dijadikan pepatah. Bahasanya yang singkat namun bermakna itu pun membuat pepatah Jawa masih digunakan hingga era ini. Ada yang memakai pepatah Jawa sebagai objek introspeksi diri hingga sindiran. Jika memahaminya dengan elok, pepatah Jawa ini banyak mengajarkan tentang kehidupan.

Penasaran, kan? Berikut 103 kata-kata pepatah Jawa beserta artinya, dihimpun brilio. net dari berbagai sumber di Senin (23/8).

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI


Kata-kata pepatah Jawa berisi motivasi.


foto: Instagram/@jendelaboyolali

1. “Adhang-adhang tetese embun. ”

(Berharap sesuatu dengan hasil barang apa adanya. Seperti berharap di tetes embun. )

2. “Adigang, adigung, adiguna. ”

(Mengandalkan kekuatan, kekuasaan, dan kepintarannya. )

3. “Ana dina, ana upa. ”

(Tiap perjuangan selalu ada hasil yang nyata. )

4. “Becik ketitik, ala ketara. ”

(Perbuatan baik akan selalu dikenali, dan perbuatan buruk nantinya juga akan diketahui juga. )

5. “Gliyak-gliyak tumindak, sareh pakoleh. ”

(Upaya dengan dilakukan perlahan, tapi keputusannya tujuannya akan tercapai. )

6. “Kena iwake aja nganti buthek banyune. ”

(Berusahalah menyentuh tujuan tanpa menimbulkan keburukan. )

7. “Ngundhuh wohing pakerti. ”

(Apa pun yang kita lakukan akan membuahkan hasil yang sepadan. )

8. “Sabar sareh mesthi bakal pikoleh. ”

(Pekerjaan apa pun tanpa dilakukan dengan tergesa-gesa biar berhasil. )

9. “Sepi ing pamrih, rame ing gawe. ”

(Melakukan pekerjaan tanpa pamrih. )

10. “Sluman slumun slamet. ”

(Biarpun kurang hati-hati akan tetapi masih diberi keselamatan. )

11. “Dhemit ora ndulit, setan ora doyan. ”

(Berharap doa dan harapan agar selalu diberi keselamatan, tidak ada suatu halangan dan halangan. )

Kata-kata aforisme Jawa berisi sindiran dan rasa kecewa.

menjepret: Instagram/@jendelaboyolali

12. “Beras wutah arang bali menyang takere. ”

(Menggambarkan sesuatu yang telah rusak tidak akan bisa kembali sama seperti awal. )

13. “Cuplak andheng-andheng, yen ora sudah panggonane bakal disingkirake. ”

(Orang yang menerbitkan keburukan maka semua kebaikannya akan terhapus. )

14. “Dadiya banyu emoh nyawuk, dadiya godhong emoh nyuwek, dadiyo suket emoh nyenggut. ”

(Menggambarkan orang yang saking jengkelnya hingga tidak mau bertegur sapa lagi. )

15. “Dandhang diunekake ponggok, kuntul diunekake dandhang. ”

(Perkara yang membatalkan dianggap baik, sedangkan yang baik dianggap buruk. )

16. “Gupak pulute ora mangan nangkane. ”

(Sudah ikut berjuang susah payah, tapi tidak ikut menikmati hasilnya. )

17. “Jagakake endhoge si blorok. ”

(Berharap pada sesuatu yang belum pasti. )

18. “Jalma angkara tewas murka. ”

(Mendapat kesulitan karena kemarahannya sendiri. )

19. “Kakehan gludug kurang udan. ”

(Terlalu banyak bicara namun tidak pernah memberi bukti. )

20. “Kebat kliwat, gancang senjang. ”

(Tindakan yang tergesa-gesa pasti tidak sempurna. )

21. “Kendel ngringkel, dhadang ora godak. ”

(Mengaku berani dan pintar, kenyataannya darah dan bodoh. )

22. “Kumenthus ora pecus. ”

(Menggambarkan orang yang banyak membual tanpa bukti dan perbuatan dengan becus. )

23. “Lambe satumang kari samerang. ”

(Orang yang sudah berkali-kali dinasihati akan tetapi tak juga didengarkan. )

24. “Menthung koja kena sembagine. ”

(Menggambarkan seseorang yang merasakan telah memperdayai namun memang dia sediri yang telah terpedaya. )

25. “Milih-milih tebu oleh boleng. ”

(Terlalu banyak memilih tapi pada belakangan malah mendapatkan yang tidak baik. )

26. “Nabok nyilih tangan. ”

(Menggambarkan orang yang tidak berani menghadapi musuhnya dan meminta bantuan karakter lain diam-diam. )

27. “Ngajari bebek nglangi. ”

(Pekerjaan dengan tidak ada manfaatnya. )

28. “Obah ngarep kobet mburi. ”

(Segala tindakan pemimpin tetap jadi anak buahnya. )

29. “Pitik trondhol diumbar ing padaringan. ”

(Orang yang diberi kepercayaan barang berharga, di akhirnya hanya bisa menghabiskannya. )

30. “Sembur-sembur adus, siram-siram bayem. ”

(Sebuah tujuan yang terlaksana karena mendapat sokongan banyak orang. )

Kata-kata pepatah Jawa mengenai kehidupan.

foto: Instagram/@khomarudin_id

31. “Bathok bolu isi madu. ”

(Menggambarkan orang sejak kalangan bawah tapi mampu ilmu pengetahuan. )

32. “Busuk ketekuk, pinter keblinger. ”

(Orang bodoh ataupun pandai sejenis saat sama-sama akan mengalami keusulitan. )

33. “Desa mawa cara, negara mawa tata. ”

(Setiap daerah memiliki kebiasaan istiadat atau aturan yang berbeda. )

34. “Dudu sanak dudu kadang-kadang, yen mati melu kelangan. ”

(Meskipun tak ada ikatan darah, namun terasa sudah seperti periode dari keluarga, yang kalau ada duka, ikut merasa sedih dan kehilangan. )

35. “Kacang ora ninggal lanjaran. ”

(Kebiasaan anak selalu meniru dari orang tuanya. )

36. “Kebo mulih menyang kandhange. ”

(Sejauh-jauh seseorang pergi, kesimpulannya akan pulang ke wilayah halamannya. )

37. “Kesandhung ing rata, kebentus ing tawang. ”

(Menemui musibah yang tidak disangka-sangka. )

38. “Mikul dhuwur mendhem jero. ”

(Seorang bujang yang menjunjung tinggi derajat orang tua. )

39. “Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah. ”

(Hidup rukun nyata akan hidup sentosa, sebaliknya jika selalu bertikai nyata akan bercerai. )

40. “Tunggak jarak mrajak tunggak jati mati. ”

(Perkara jelek merajalela sedangkan perkara baik letak sedikit. )

Perbahasaan Jawa penuh makna.

foto: freepik. com

41. “Urip iku urup. ”

(Hidup itu hendaknya memberi khasiat bagi orang lain pada sekitar kita. Sekecil apa pun manfaat yang kita berikan, jangan sampai menjadi orang yang meresahkan kelompok. )

42. “Ngono ya ngono ning aja ngono. ”

(Boleh saja engkau berperilaku sekehendakmu, namun jangan sampai melanggar nilai atau norma jadi merugikan orang lain. )

43. “Sapa engkau sapa ingsun. ”

(Janganlah menggurui, memerintah, mengikuti mencampuri urusan orang lain tanpa izin, apalagi mengeklaim kehendak, biarlah masing-masing memiliki prinsip, pandangan, keyakinan serta pemikiran. )

44. “Surga manut neroko katut. ”

(Kehidupan seorang istri ditentukan dari baik-buruknya agama suami. )

45. “Aja gumunan, aja getunan, aja kagetan, aja aleman. ”

(Jangan mudah terheran-heran, jangan mudah menyesal, jangan mudah terkejut-kejut, jangan manja. )

46. “Aja kuminter mundak keblinger, aja cidra mundak cilaka. ”

(Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, jangan suka berbuat curang supaya tidak celaka. )

47. “Mangan ora mangan sing penting ngumpul. ”

(Makan tidak santap yang terpenting adalah mampu berkumpul. )

48. “Anak polah bapa kepradah. ”

(Tingkah perangai anak mempunyai imbas bagi wali, tingkah laku anak yang buruk orang sampai umur ikut terdampak buruk, sejenis pula sebaliknya, jika kepribadian anak baik, pengampu biar akan ikut terdampak jalan. )

49. “Busuk ketekuk, pinter keblinger. ”

(Orang bodoh atau pandai suatu saat sama-sama akan mengalami kesulitan. )

50. “Tak kiro lali bales, tibake wes males. ”

(Aku pikir lupa membalas, ternyata udah malas)

51. “Dandhang diunekake kuntul, ponggok diunekake dandhang. ”

(Perkara dengan buruk dianggap baik, namun yang baik dianggap buruk. )

52. “Bibit, bebet, bobot. ”

(Menilai kualitas berdasarkan asal muasal, peranan, dan kiprah yang telah diperbuat. )

53. “Dhuwur wekasane, endhek wiwitane. ”

(Kesengsaraan yang membuahkan kemuliaan. )

54. “Diobong ora kobong, disiram ora teles. ”

(Menjadi pribadi yang ulet, tekun, tangguh menghadapi segala teguran dan rintangan, hingga berhasil merengkuh kemuliaan serta kejayaan. )

55. “Dumadining sira iku lantaran anane bapa biyung ira. ”

(Terjadinya dirimu sebab diciptakannya ibu bapakmu sehingga kedua orang tua harus dimuliakan. )

56. “Jaman iku owah gingsir. ”

(Ruang, zaman, serta zaman akan tetap dinamis dan berubah. )

57. “Kaya banyu karo lenga. ”

(Tidak pernah rukun perbahasaan air dan minyak. )

58. “Nguyahi banyu segara. ”

(Melakukan suatu perbuatan yang terbengkalai belaka, ibarat menggarami segara. )

59. “Urip iku saka Pangeran, bali marang Pangeran. ”

(Hidup itu berasal dibanding Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. )

60. “Manunggaling kawula gusti. ”

(Manunggalnya ataupun bersatunya antara kawula (hamba) dengan sifat-sifat Tuhannya. )

61. “Bedo neng lambe bedo neng ati. ”

(Lain pada mulut lain di hati)

62. “Atose watu akik isih kalah karo atose omonganmu. ”

(Kerasnya batu akik sedang kalah dengan omonganmmu)

63. “Wani ngalah, luhur wekasane. ”

(Berani mengalah demi kepentingan beriringan adalah sikap yang utama. Begitulah watak kesatria yang berjiwa besar dan lapang dada. )

64. “Wani silit, wedi rai. ”

(Seorang pengecut yang hanya berani di kecil layar, namun takut masa behadapan secara langsung. )

65. “Asu rebutan balung. ”

(Manusia berkonflik untuk memperebutkan sejenis hal yang sifatnya kecil atau remeh temeh. )

66. “Beda-beda pandumaning dumadi. ”

(Tuhan Yang Maha Adil menganjurkan anugerah yang adil pada seluruh makhluk ciptaan-Nya. )

67. “Kebo nyusu gudel. ”

(Kaum tua menimba ilmu ataupun berguru kepada kaum muda. )

68. “Crah agawe bubrah. ”

(Pertentangan atau konflik menjadikan perpecahan/kerusakan. )

67. “Krido lumahing asto. ”

(Hamba yang mengemis dan peminta-minta. )

68. “Kutuk marani sunduk. ”

(Mendekati celaka bahaya. )

69. “Lamun sira durung wikan alamira pribadi, mara takona marang wong kang wus wikan. ”

(Jikalau engkau belum memahami daerah pribadimu, hendaknya engkau bertanya kepada yang telah memahaminya. )

70. “Manungsa iku kanggonan sipating Tengku. ”

(Manusia itu memiliki sifat Tuhan. )

71. “Yen wedi aja wani-wani, yen wani aja wedi-wedi. ”

(Jadilah engkau pribadi yang mempunyai prinsip, tegas, & tidak ragu. )

72. “Kuat lakoni, ora kuat tinggal ngopi. ”

(Kuat dilakukan, jika tidak kuat ditinggal ngopi)

73. “Mundur wae saingane konco dewe. ”

(Mundur aja saingannya teman sendiri)

74. “Ngono ya ngono ning aja ngono. ”

(Boleh saja engkau berperilaku sekehendakmu, namun jangan sampai melanggar nilai atau kebiasaan sehingga merugikan orang lain. )

75. “Jenenge pasangan, yen ora tepat yo mung dadi rancangan. ”

(Namanya bagian, kalau enggak pas dengan cuma jadi angan)

menjepret: Instagram/@kata_jawa008

76. “Manungsa mung ngunduh wohing pakarti. ”

(Kehidupan manusia baik dan membatalkan adalah akibat dari perbuatan manusia itu sendiri. )

77. “Sak apik-apike wong yen awehi pitulung kanthi cara dedemitan. ”

(Sebaik-baiknya orang adalah yang memberi pertolongan secara sembunyi-sembunyi. )

78. “Urip iku terus mlaku, bebarengan karo wektu, sing bisa gawa lakumu, supaya apik nasibmu. ”

(Hidup itu terus berjalan, bersamaan dengan waktu, yang bisa membawa tingkah lakumu, biar nasibmu baik. )

79. “Sabar iku ingaran mustikaning laku. ”

(Bertingkah laku secara mengedepankan kesabaran itu ibaratkan sebuah hal yang benar indah dalam sebuah kehidupan. )

80. “Aja dadi uwong sing rumangsa bisa lan rumangsa pinter. Nanging dadiya uwong sing bisa lan pinter rumangsa. ”

(Jangan oleh sebab itu orang yang merasa mampu dan merasa pintar, namun jadilah orang yang mampu dan pintar merasa. )

81. “Yen urip mung isine isih nuruti nepsu, sing jenenge mulya mesti soyo angel ketemu. ”

(Jika tumbuh masih dipenuhi dengan nafsu untuk bersenang-senang, yang namanya kemuliaan hidup akan semakin sulit ditemukan. )

82. “Aja mbedakake marang sak sapadha-pada. ”

(Hargai perbedaan, jangan memperbedakan sesama manusia. )

83. “Ngapusi kui hakmu. Kewajibanku mung etok-etok ora ngerti yen mbok apusi. ”

(Berbohong itu hakmu. Kewajibanku hanya pura-pura tidak tahu kalau kamu berbohong. )

84. “Ambeg utomo, andhap asor. ”

(Selalu menjadi yang utama tapi tetap rendah hati. )

85. “Witing tresno jalaran soko kulino. Witing mulyo jalaran wani rekoso. ”

(Bahwa cinta itu tumbuh lantaran ada etiket, kemakmuran itu timbul sebab berani bersusah dahulu. )

86. “Dosa sing paling menyedihkan iku dosambat ora duwe duit. ”

(Dosa yang menyesatkan menyedihkan adalah pada mengeluh tidak punya duit. )

87. “Uripmu koyo wit gedhang duwe jantung tapi ora duwe ati. ”

(Hidupmu semacam pohon pisang, punya dalaman tapi tak punya hati)

88. “Nek dipikir suwi iku loro, nek dirsake yo tambah loro, loro tambah loro, papat. ”

(Kalau dipikir lama-lama sakit, kalau dirasakan tambah sakit, dua tambah dua, empat. )

89. “Nek ngomong ojo manis-manis, mundak cangkeme dirubung semut. ”

(Kalau bicara jangan manis-manis, belakang mulutnya diserbu semut. )

90. “Kadang mripat iso salah ndelok, kuping iso salah krungu, lambe iso salah ngomong, akan tetapi ati ora bakal iso diapusi. ”

(Terkadang mata bisa salah melihat, telinga bisa salah mengikuti, mulut bisa salah mengucap, tapi hati tak mampu dibohongi dan membohongi. )

91. “Sing wis lunga lalekno, sing durung teko entenono, sing wis ono syukurono. ”

(Yang sudah pergi lupakanlah, yang belum datang tunggulah, dan yang sudah tersedia syukurilah. )

92. “Waktu adalah uang. Yen kancamu mbok jak dolan raono wektu, brarti wonge lagi ra duwe duit. ”

(Waktu adalah uang. Kalau temanmu tidak ada waktu untuk diajak jalan, artinya ia sedangkan tidak punya uang. )

93. “Niat kerjo, ora golek perkoro. Niat golek rejeki, ora golek rai. Ora balapan, opo maneh ugal-ugalan. ”

(Niat bekerja, bukan cari perkara. Niat mencari rejeki, bukan cari perhatian sama. Bukan balapan, apalagi serampangan. )

94. “Kacang iku gurih, tapi nek dikacangin iku perih. ”

(Kacang itu enak, tapi kalau dikacangin tersebut perih. )

95. “Gusti yen arek iku jodohku tulung cedakaken, yen mboten jodohku tulung jodohaken. ”

(Tuhan bila orang itu adalah jodohku tolong dekatkanlah, dan bila bukan tolong jodohkanlah. )

96. “Akeh manungsa ngrasakaken tresna, tapi taksir lan ora kenal opo kui hakekate atresna. ”

(Banyak manusia merasakan cinta, namun mereka kurang tidak mengenal hakikat kasmaran sebenarnya. )

97. “Uwong duwe pacar iku kudu sabar ambek pasangane. Opo meneh sing gak duwe. ”

(Orang yang punya pacar itu haruslah bersabar dengan bagian yang dimilikinya. Apalagi yang gak punya. )

98. “Iso nembang gak iso nyuling, iso nyawang gak iso nyanding. ”

(Bisa nyanyi tak bisa bermain seruling, mampu melihat tidak bisa mengiringi. )

99. “Arek lanang iku kuoso milih, arek wadon kuoso menggiring. ”

(Anak laki-laku bebas memilih, anak perempuan bebas menolak. )

100. “Ben akhire ora kecewa, dewe kudu ngerti kapan wektune berharap lan kapan wektune kudu mandeg. ”

(Agar alhasil tidak kecewa, kita harus mengerti kapan waktunya meminta dan kapan waktunya kudu berhenti. )

101. “Move on kuwi dudu berusaha nglalekke ya, akan tetapi ngikhlaske lan berusaha ngentukke sing luwih apik luwih seko sing mbiyen-mbiyen. ”

(Move on itu bukan berusaha melupakan ya, tapi mengikhlaskan dan berusaha mendapatkan yang lebih cantik dari sebelum-sebelumnya. )

102. “Jarene wes ikhlas de’e karo sing liyo, kok iseh ngomong ‘Nek Tuhan ra bakal mbales, karma sing mbales. ‘ Mbok wes meneng wae luwih apik. ”

(Katanya sudah ikhlas tempat dengan yang lain, kok masih bilang ‘Kalau Tuhan nggak akan membalas, karma yang balas. ‘ Udah sepi aja lebih baik. )

103. “Mbangun kromo ingkang satuhu, boten cekap bilih ngagem sepisan roso katresnan. Hananging butuh pirang katresnan lumeber ning bagian uripmu siji kui. ”

(Pernikahan yang sukses tidak membutuhkan sekali jatuh cinta, tetapi berkali-kali anjlok cinta pada orang yang sama. )

(brl/lea)

Recommended By Editor