Brilio. net – Haid atau biasa dikenal menstruasi adalah salah satu suasana wajar dialami oleh wanita. Bocor terjadi sebagai bentuk perubahan fisiologis dalam tubuhnya berupa keluarnya pembawaan dari rahim setelah ovulasi secara berkala yang disebabkan oleh terlepasnya lapisan endometrium rahim.

Dalam Islam, wanita yang sedang merasai haid tidak diperbolehkan untuk melangsungkan beberapa hal seperti berpuasa, sholat dan lain sebagainya. Dilansir brilio. net dari berbagai sumber di (27/7) Al hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari mengatakan:

“Larangan sholat untuk perempuan haid adalah perkara yang telah jelas karena kesucian dipersyaratkan dalam sholat dan perempuan haid tidak dalam keadaan suci. Mengenai puasa tidak dipersyaratkan di dalamnya kesucian maka larangan puasa bagi perempuan haid itu sifatnya adalah ta’abudi (hal yang berkaitan dengan ibadah). ”

Meskipun perempuan meninggalkan sholat & puasa, bukan berarti mereka kehilangan pahala. Dalam Islam, wanita mempunyai beberapa adab dan aturan untuk melakukan ibadah saat sedang bocor karena dianggap sedang tidak kudus. Dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 222, Allah berfirman:


Loading…


Wa yas’alunaka ‘anil-mahiid, qul huwa azan fa’tazilun-nisaa’a fil-mahiidi wa laa taqrabuhunna hattaa yat-hurn, fa izaa tatahharna fa’tuhunna min haisu amarakumullaah, innallaaha yuhibbut-tawwaabiina wa yuhibbul-mutatahhiriin.

Artinya:

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati itu, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyenangi orang-orang yang mensucikan diri. ”

Adab perempuan bocor

foto: freepik

1. Tidak boleh melaksanakan sholat.

Melakukan sholat dalam keadaan memiliki hadats besar sangatlah dilarang. Ketika dalam masa haid, berarti seorang perempuan sedang dalam keadaan tidak bersih atau kotor. Oleh karena itu, diperintahkan untuk tidak mengerjakan sholat fardhu maupun sunnah kepada perempuan yang sedang haid. Rasulullah Saw. bersabda kepada istrinya Aisyah:

“Apabila haid pegari, tinggalkanlah sholat. “(HR Bukhari dan Muslim).

Suatu hari, datanglah seorang wanita dan bertanya kepada Aisyah, “Apakah lengah seorang dari kami harus mengqadha sholatnya bila telah suci sebab haid? ”

Kemudian istri Nabi pun bertanya, “Apakah engkau wanita Hururiyah? Ana dulunya haid di masa Rasul SAW. Beliau tidak memerintahkan kami mengganti sholat. ” (HR. Bukhari)

dua. Tidak boleh membaca Alquran.

Selain tidak boleh sholat, wanita haid selalu tidak bole membaca Alquran. Rasulullah saw Saw. bersabda:

“Orang junub dan wanita bocor tidak boleh membaca sedikit pula dari Alquran. ” (HR. Tirmidzi)

3. Tidak boleh menjalankan puasa.

Para ustaz sepakat, seorang perempuan yang padahal haid atau masa nifas, oleh karena itu tidak diperbolehkan berpuasa. Namun, setelah masa haidnya usai, mereka wajib mengganti (mengqadha) puasa Ramadhan.

Aisyah menjelaskan, “Kami mengalami hal itu (haid), maka kami diperintahkan mengqhada pertarakan tapi tidak diperintahkan mengqadha shalat. ” (H. R Muslim serta Abu Daud)

4. Dilarang berhubungan awak dengan suami.

Perempuan yang sudah mempunyai suami, ketika haid dilarang buat melakukan hubungan badan dengan suaminya karena dirinya sedang dalam kejadian kotor atau tidak suci. Sepadan seperti yang sudah dijelaskan pada surat Al Baqarah ayat 222 di atas.

5. Tetap berkasih roman dengan suami.

Meski tidak boleh melangsungkan hubungan badan dengan suami, seorang perempuan yang sedang haid lestari diperbolehkan untuk berkasih sayang dengan suami. Hadits riwayat Aisyah ra, ia berkata:

“Adalah Nabi saw. apabila beriktikaf, beliau mendekatkan kepalanya padaku, morat-marit aku menyisir rambut beliau. Dia tidak masuk rumah, kecuali kalau ada hajat kemanusiaan. ” (Shahih Muslim No. 445)

“Rasulullah saw. pernah menelentang di pangkuanku sambil membaca Alquran, sementara aku sedang haid. (Shahih Muslim No. 454)”

6. Tidak bisa meminta atau mendapatkan talak pada suami.

Ketika seorang suami melakukan thalak saat istrinya dalam keadaan haid, maka disebut talak bid’i. Talak jenis ini sangat dilarang. Sesuai dijelaskan Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan membawa ucapan Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas tentang firman Allah, “Fathalliquuhunna li ‘iddatihinna. ”

7. Tidak diperbolehkan berdiam diri di dalam masjid.

Dalam Al-Majmu II/163, An-Nawawi mengutip ucapan Ahmad bin Hanbal, “Haram bagi seseorang junub duduk dan berdiam dalam masjid, tetapi dibolehkan baginya melewatinya karena suatu keperluan. ” Dilanjutkan lagi, “Seseorang yang junub dapat berhenti dan duduk di masjid setelah dia berwudhu. ”

Hadits di arah menunjukkan bahwa wanita yang bocor diperbolehkan masuk ke dalam langgar jika ia mampu memenuhi besar syarat yaitu ia memiliki kemauan yang harus ia tunaikan, dan tidak boleh mengotori masjid berarti ia bisa menjamin darah itu tidak akan keluar.

8. Tetap mengarahkan ibadah yang diperbolehkan.

Meskipun dalam kejadian yang tidak suci, perempuan dengan sedang haid tetap dapat melaksanakan ibadah yang diperbolehkan seperti berdzikir, berdoa, bersholawat, mengingat nama Tuhan dengan membaca Asmaul Husna serta lain sebagainya.

9. Tetap belajar & mengamalkan ilmu agama.

Meskipun sedang bocor, bukan berarti dapat bermalas-malasan. Hawa muslim yang sedang haid kudu tetap belajar dan mengamalkan kemahiran agama seperti membaca-baca buku Islam, mendengarkan ceramah, mendengarkan murotal, bersedekah atau melakukan amal sosial keagamaan lainnya.

10. Saat melakukan ibadah haji, tidak boleh thawaf ketika haid.

Rasulullah SAW bersabda kepada Aisyah ketika sedang melaksanakan haji, tetapi dalam saat itu pula haid sampai.

“Kerjakanlah segala yang dikerjakan oleh orang dengan sedang berhaji, tetapi jangan menyelenggarakan thawaf. ” (HR. Bukhari & Muslim).

Recommended By Editor